e78b1f00-e347-4237-bb55-d152f1433e7f_169

Adu Taktik JUVENTUS DAN REAL MADRID DALAM FINAL LIGA CHAMPIONS 2017

LiputanBola – Pertandingan final Liga Champions UEFA akan mempertemukan Juventus sebagai juara Italia dengan Real Madrid sebagai juara Spanyol. Pertandingan yang akan dilangsungkan di Stadion Millenium, Cardiff, Wales, pada Minggu (04/06) dinihari ini akan menjadi ulangan final Liga Champions 1998 saat Real Madrid mampu mengalahkan Juventus dengan skor 1-0.

Sangat banyak hal yang sudah berubah dari final 1998 tersebut. Pada final ini, Juventus sedang mengejar gelar treble mereka, sebelumnya mereka berhasil meraih trofi Serie A dan Coppa Italia. Sedangkan Real Madrid mengejar gelar double karena di kompetisi domestik, mereka berhasil menjadi juara La Liga.

Duel kedua kesebelasan dianggap akan sangat menarik. Real Madrid adalah kesebelasan dengan penyerangan terbaik di Liga Champions musim ini, mencetak 32 gol dengan rata-rata 19,6 tembakan per pertandingan. Sementara itu, Juventus adalah kesebelasan dengan pertahanan terbaik, mereka baru kebobolan tiga gol di Liga Champions musim ini.

Sekilas Perjalanan dan Taktik Kedua Kesebelasan

Kemampuan menyeluruh dan keseimbangan dari semua pemain di atas lapangan menjadi kunci pada pertandingan final nanti. Allegri bisa memainkan 4-2-3-1 atau 3-4-2-1. Tidak peduli mana yang akan menghiasi lembar daftar pemain mereka, kedua sistem ini bisa terjadi bergantian pada realitanya di atas lapangan.

Secara defensif, Juventus memainkan tekanan yang berorientasi pada pemain lawan. Fokus Juventus ketika bertahan adalah untuk mempertahankan bentuk formasi mereka, alih-alih terburu-buru merebut bola.

Allegri pastinya akan beradaptasi dengan lawannya. Jika lawannya lebih senang bermain dari belakang seperti Barcelona, Juventus hampir pasti akan lebih menekan. Tapi jika lawan bermain lebih direct seperti Monaco, maka mereka akan menunggu di belakang sambil memadatkan lini tengah.

Fokus penyerangan Juventus ketika berhasil merebut bola untuk kemudian melakukan transisi ke menyerang adalah dengan memberikan ruang bagi kedua bek sayap. Paolo Dybala dan/atau Gonzalo Higuaín biasanya akan turun mencari ruang. Turunnya mereka ini akan menciptakan ruang kosong yang bisa dimanfaatkan oleh salah satu bek sayap Juventus.

739b373f-0f08-4029-872c-3ebe455aaffe

Permainan melebar Juventus sangat terbantu dengan permainan Alex Sandro dan Daniel Alves, dua bek sayap mereka, yang memanfaatkan lebar lapangan, baik untuk menusuk maupun melakukan umpan silang.

[Baca Juga: Pentingnya Peran Bek Sayap untuk Menjaga Keseimbangan Permainan Juventus]

Sebelumnya, Juventus sudah memenangkan Liga Champions pada 1985 dan 1996. Namun untuk pertandingan final Liga Champions lainnya, mereka sempat kalah enam kali pada edisi 1973, 1983, 1997, 1998, 2003, dan 2015.

Lawan Juventus di final, Real Madrid, akan bertindak sebagai “kesebelasan tamu”. Mereka akan memakai kostum tandang. Real Madrid adalah juara bertahan Liga Champions. Setelah berganti format ke Liga Champions pada 1992 (sebelumnya adalah Piala Eropa), tidak ada yang bisa menjuarai Liga Champions dua musim berturut-turut. Jadi jika Real Madrid menang, mereka akan mencatatkan sejarah.

Zinedine Zidane sebagai manajer Real Madrid memiliki pendekatan yang lebih sederhana, namun selalu menekankan pada respons taktik yang hampir selalu tepat, menyesuaikan dengan lawan mereka maupun dengan kondisi pemain mereka sendiri.

Formasi andalannya adalah 4-3-3 dengan fokus penyerangan pada dua pemain sayap, yaitu Gareth Bale dan Cristiano Ronaldo. Namun pada saat Bale cedera, ia memainkan formasi 4-3-1-2 (atau bisa juga dibaca 4-4-2 berlian) dengan Isco bermain sebagai gelandang serang, serta Ronaldo dan Karim Benzema sebagai ujung tombak.

Struktur organisasi yang kuat adalah kunci Real Madrid saat bertahan. Mereka hampir selalu berusaha mencoba menekan lawan secara vertikal, yang membuat lapangan tengah menjadi penuh, sehingga memudahkan mereka dalam merebut penguasaan bola.

Casemiro, sebagai gelandang bertahan Real Madrid, memegang peranan penting di sini, terutama ketika salah satu dari kedua full-back mereka, Marcelo atau Daniel Carvajal, terlambat turun.

Real Madrid juga sedang mengejar gelar Liga Champions ke-12 mereka. Sebelumnya, mereka berhasil memenangkan final Liga Champions pada 1956, 1957, 1958, 1959, 1960, 1966, 1998, 2000, 2002, 2014, dan 2016; serta kalah pada final 1962, 1964, dan 1981.

Juventus dan Real Madrid sudah bertemu 18 kali di kompetisi Eropa, yang kesemuanya adalah di Liga Champions. Masing-masing kesebelasan sudah menang delapan kali dan imbang dua kali.

Fokus Permainan Melebar pada Kedua bek Sayap

Zidane masih menunggu kondisi Bale. Meskipun ia sudah mulai berlatih, tapi ia sudah lama tidak bermain. Hal ini membuat Zidane lebih berpotensi memainkan Isco yang berarti Real Madrid akan memasang formasi 4-3-1-2 di awal pertandingan.

Sementara itu, Juventus memiliki pilihan mereka untuk memainkan formasi dasar 4-2-3-1 atau 3-4-2-1. Jika mereka memainkan pola dasar 4-2-3-1, ini akan membuat dua gelandang bertahan bisa melakukan tekanan ketika Real Madrid mengalirkan bola dari pertahanan mereka ke lini tengah.

Atau, jika Juventus memainkan pola dasar 3-4-2-1, mereka akan bermain lebih melebar, berusaha unggul jumlah pemain dengan Real Madrid dalam situasi bertahan maupun menyerang, yaitu menggunakan dua wing-back untuk menekan kedua full-back Real Madrid. Begitu juga Dybala atau Mario Mandžukić bisa turun untuk mengungguli jumlah pemain di lini tengah.

Menyikapi dilema antara pemilihan formasi ini, Giorgio Chiellini berpendapat bahwa itu tidak akan ada bedanya. “Tak penting kami memasang tiga atau empat bek di lini pertahanan, semuanya relatif. Kesebelasan ini bertahan dengan 11 pemain,” kata bek asal Italia tersebut pada laman resmi Juventus.

Apa yang dikatakan Chiellini memang benar. Formasi dasar di awal pertandingan tidak menjadi patokan khusus posisi pemain saat tak menguasai bola, baik itu ketika bermain dengan pola dasar 4-2-3-1 maupun 3-4-2-1. Saat bertahan, Juventus bisa terlihat memakai pola 4-4-2 atau 5-3-2.

Satu hal yang sepertinya jelas, kedua kesebelasan akan bermain melebar ketika menyerang dengan sama-sama memaksimalkan kedua bek sayap mereka. Di sini lah sebenarnya Real Madrid berpotensi memiliki masalah yang lebih besar dibandingkan dengan Juventus.

Jika ada salah satu pemain yang harus diantisipasi Zidane, ia adalah Alves. Jujur saja, Ronaldo kemungkinan besar tidak akan melakukan track-back. Ini membuat Casemiro (yang mungkin akan dibantu Modrić) bekerja keras menghadapi Alves dan Juan Cuadrado.

Biasanya Allegri akan memainkan 3-5-2 dengan Alves sebagai wing-back, tapi kemudian di babak kedua Cuadrado akan bermain, mengubah skema Juventus dari tiga bek tengah menjadi dua bek tengah, yang membuat Alves turun sebagai full-back dan Cuadrado sebagai winger kanan.

Kecenderungan Modrić dan Kroos untuk naik menekan dan memenuhi lini tengah akan membuat Alves atau Cuadrado mendapatkan banyak ruang.

Begitu juga untuk Juventus, Marcelo dan Carvajal sedang dalam penampilan terbaik mereka. Permainan melebar Real Madrid bergantung kepada dua pemain ini. Real Madrid akan berusaha unggul jumlah pemain di sayap dengan menciptakan situasi dua lawan satu ketika menyerang.

Taktik Jika Permainan Melebar Berhasil Diantisipasi

Hal yang menarik akan terjadi jika kedua manajer berhasil mematikan permainan melebar lawan-lawannya. Jika hal ini terjadi, maka Isco atau Miralem Pjanić yang berpotensi menjadi pemain kunci untuk kedua kesebelasan dalam memecahkan kebuntuan.

Isco yang bermain di posisi lubang akan melihat peluang untuk membawa bola ke depan. Ini akan membuat Real Madrid unggul jumlah pemain ketika menyerang, tapi sekaligus rentan ketika bertahan.

Sementara itu, Pjanić akan berusaha menyambungkan permainan dengan Dybala yang bergerak turun mencari ruang sekaligus menghidari agresivitas Casemiro. Akurasi operan Pjanić juga akan menjadi krusial jika Juventus masih kesulitan menembus pertahanan Real Madrid.

Jika memang Real Madrid terlalu kuat untuk Juventus, Allegri pasti akan mengetahui hal ini dan akan membuat kesebelasannya bermain lebih bertahan, sesuai dengan keahlian mereka, untuk kemudian melihat celah melakukan serangan balik.

Selain itu, kedua kesebelasan juga sepertinya akan memaksimalkan situasi bola mati yang menjadi kelemahan bagi kedua kesebelasan. Namun, Juventus patut ekstra hati-hati karena Real Madrid memiliki Sergio Ramos.

Jika taktik adalah fana, sementara yang abadi itu adalah kemenangan, Allegri dan Zidane pasti sadar untuk mendapatkan keabadian tersebut, maka mereka harus bisa merancang taktik dan respons taktik yang tepat untuk pertandingan final nanti. Itu lah kenapa ada banyak alasan yang berpotensi membuat pertarungan taktik di Cardiff nanti akan berlangsung lebih dari 90 menit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*