foto-1

Ventura Dicap Sebagai Pengecut Berjiwa Medioker Yang Keras Kepalanya Sudah Level Dewa

Liputanbola.co – Kenapa repot-repot memanggil Lorenzo Insigne kalau hanya untuk memainkannya sebagai gelandang atau menyuruhnya duduk di bangku cadangan? Kenapa ngotot memakai sistem 3-5-2 saat semua orang menyerukan 4-3-3?

Kenapa pula tak langsung mundur setelah menorehkan sebuah aib bersejarah bagi negaranya?

Itulah sedikit gambaran betapa keras kepalanya seorang Giampiero Ventura.

Pria 69 tahun yang prestasi terbaiknya hanya sekali juara Serie C itu seolah tidak tahu apa yang dikerjakannya. Namun dia berpegang teguh pada pendiriannya.

Ketika seantero Italia menyerukan agar dia segera mundur saja dari posisi pelatih tim nasional, Ventura mengisyaratkan tidak. Dia malah membanggakan rekornya, yang saat ini sama sekali tidak berguna.

Pengecut berjiwa medioker, keras kepalanya seorang Ventura sudah mencapai level dewa. Bahkan, mungkin juga rasa tidak tahu malunya.

foto-2

Italia kalah 0-1 di kandang Swedia pada leg pertama play-off kualifikasi Piala Dunia 2018. Pada leg kedua di San Siro, Italia hanya imbang 0-0 dan harus menerima kenyataan pahit gagal lolos ke Rusia.

Untuk pertama kalinya sejak 1958, Italia absen di putaran utama Piala Dunia. Ini adalah sebuah aib bagi negara sepakbola yang pernah empat kali jadi juara di turnamen paling akbar sejagat.

Ventura, sebagai pelatih, tentu saja adalah salah satu sosok yang paling bertanggung jawab.

TAK MENGGUBRIS OPINI PUBLIK
Laga terakhir Italia di babak kualifikasi Grup ditutup dengan kemenangan tipis 1-0 atas Albania. Meski mampu mengamankan peringkat dua di bawah Spanyol yang super, Italia besutan Ventura tidak meyakinkan di hampir semua pertandingan mereka. Kesulitan melawan tim-tim yang lebih inferior semacam Albania, Israel dan Makedonia, kekalahan 0-3 di kota Madrid sama sekali tidak mengejutkan.

Masuk babak play-off, Ventura meninggalkan sistem 4-2-4, yang jadi santapan empuk Spanyol, dan beralih ke 3-5-2 untuk menghadapi Swedia. Hasilnya kembali mengecewakan.

Padahal, jika memakai sistem 4-3-3, Ventura bisa memasang hampir semua pemain kreatifnya. Mengingat Italia perlu mencetak gol dan meraih kemenangan di San Siro, 4-3-3 adalah pilihan paling logis. Pasalnya, sistem itu memberi keseimbangan, sedangkan pemain-pemain paling in-form di skuat Italia juga mereka yang biasa bermain dengan formasi ini di klubnya. Jorginho dan Lorenzo Insigne dari sang capolista Napoli adalah contohnya.

Itulah yang disuarakan oleh publik Italia, dari mantan pemain seperti Andrea Pirlo, tokoh-tokoh Calcio, hingga para pengamat dan media. Namun Ventura tak menggubris opini publik, melainkan tetap pada pilihannya.

foto-3

DIA SEPERTINYA LEBIH SUKA MEMBUAT LAWAN SENANG
Ventura memasang dua gelandang di Santiago Bernabeu. Kubu Spanyol tak diragukan lagi pasti bersukacita.

Melawan Swedia di Solna, Ventura mencadangkan Insigne – yang notabene merupakan penyerang paling on-fire di Serie A. Bek sayap Swedia Emil Krafth terang-terangan mengaku senang karena dia tak harus menghadapi Insigne, melainkan Matteo Darmian.

“Saya bertemu Insigne beberapa kali. Dia pemain yang sangat bagus. Jelas saya lebih suka berhadapan dengan Darmian daripada harus menjaga Insigne,” kata Krafth kepada SoloCalcio setelah timnya menang 1-0 di leg pertama.

Insigne baru diturunkan di 15 menit terakhir, dan itupun bukan di posisi aslinya. Raut wajah Insigne ketika menjelaskan pada rekan-rekannya bahwa dia disuruh main sebagai gelandang sentral seolah mengisyaratkan satu kalimat: “Jangan tanya, aku hanya mengikuti perintah.”

Krafth sendiri waktu itu memperkirakan kalau Insigne akan jadi starter pada leg kedua di San Siro. “Saya rasa Italia akan ganti formasi jadi 4-4-2 dengan dia (Insigne) di sayap.”

Kekhawatiran Krafth tak terbukti. Ventura sama sekali tak memainkan Insigne di San Siro. Ventura kembali memakai 3-5-2, dengan Darmian di sayap dan Manolo Gabbiadini yang musim ini baru mencetak tiga gol untuk Southampton di lini depan. Jorginho, yang sebelumnya selalu ditinggalkan oleh Ventura, kali ini langsung dipasang sebagai starter dalam laga yang sangat krusial. Coba bayangkan seberapa besar tekanan yang dia rasakan.

Italia pun bermain dengan umpan-umpan silang, padahal Swedia punya dua bek sentral berpostur tinggi pada diri Andreas Granqvist dan Victor Lindelof.

Legenda Argentina dan Napoli Diego Maradona berkata: “Saya ikut sedih Italia tidak lolos ke Piala Dunia. Mereka selalu memberi warna tersendiri pada turnamen ini. Saya melihat pertandingan mereka. Menurut saya, Italia bermain sesuai keinginan Swedia, dengan umpan-umpan silang. Mereka punya dua bek sentral yang tinggi besar.”

foto-4

PEMAINNYA SENDIRI SAJA SAMPAI MURKA

Tak kunjung bisa membobol gawang Swedia, staf Ventura memberi instruksi kepada Daniele De Rossi yang ada di bangku cadangan untuk melakukan pemanasan dan bersiap-siap. Gelandang veteran itu menanggapinya dengan marah-marah.

“Kenapa harus aku? Kita tak butuh imbang, kita ini butuh menang!”

De Rossi lalu menunjuk Insigne, yang juga duduk bangku cadangan, mengisyaratkan bahwa Italia saat itu lebih butuh penyerang daripada menambah gelandang.

PENGECUT BERJIWA MEDIOKER

Setelah peluit panjang di San Siro, yang memastikan Italia gagal lolos ke Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam 60 tahun, Ventura tak lama langsung menghilang di lorong stadion untuk bersembunyi dari tanggung jawab. Orang pertama yang menghadap kamera televisi, di saat pelatihnya pergi membawa kepengecutannya, adalah kiper dan kapten Gianluigi Buffon – sambil berjuang menahan air mata.

Tak seperti pemain-pemainnya, Ventura tak punya keberanian untuk langsung bicara pada para reporter setelah kegagalan memalukan ini. Ketika pada akhirnya bicara di konferensi persnya, dia malah mengisyaratkan bahwa dia takkan mundur dari posisi pelatih timnas.

Sebagai perbandingan, Dino Zoff saja langsung mundur setelah gagal membawa Italia juara di EURO 2000 silam. Padahal, waktu itu Zoff sudah berjuang keras meloloskan Italia sampai final meski timnya tergolong muda dan di awal tidak terlalu difavoritkan.

Pada saat Ventura hendak terbang ke Bari, dia ditemui oleh reporter dari program televisi Le Iene.

“Saya tak bisa bicara sekarang. Nanti saja tunggu saya siap untuk membahas hal ini. Saya minta maaf kepada seluruh Italia untuk hasil ini. Sangat mengecewakan melihat Piala Dunia tanpa Italia, tapi semua sudah terjadi dan saya tak bisa mengubahnya,” kata Ventura.

“Saya masih mencatatkan salah satu hasil terbaik dalam 40 tahun terakhir: Saya hanya kalah dua kali dalam dua tahun (sesuai data, Ventura kalah di 3 pertandingan bersama Timnas Italia -red).”

Ventura lalu ditanya: “Apakah Anda akan mengundurkan diri secara baik-baik?” Dia menjawab: “Ya.”

Namun kabarnya Ventura kemudian mengirim pesan teks pada agensi berita ANSA, menegaskan bahwa dia tidak pernah berkata demikian (akan mundur). Padahal, ucapannya jelas-jelas terekam kamera.

“Saya tidak tahu kenapa dia belum juga mundur,” kata Urbano Cairo, Presiden Torino – klub di mana Ventura melatih sebelum ditunjuk jadi pengganti Antonio Conte pasca-EURO 2016.

“Jujur saja, saya tidak melihat Ventura yang saya kenal. Dia terlihat lebih seperti seorang tamu (di bangku cadangan) daripada pelatih.”

Sebelum ini, Ventura memang tak pernah melatih klub besar di Italia. Prestasi tertingginya pun cuma juara Serie C bersama Lecce pada musim 1995/96 silam. Mungkin itu juga yang membuatnya tak memiliki mental juara.

Selama beberapa hari terakhir, Buffon pun secara terang-terangan menyampaikan berbagai pernyataan yang kontradiktif dengan komentar-komentar Ventura.

Ketika Ventura berkata kalau Italia dari awal tak bisa terhindar dari play-off ketika diundi berada satu grup dengan Spanyol, Buffon menegaskan bahwa Azzurri “tidak boleh mulai terbiasa jadi medioker.” Saat Ventura komplain tentang wasit dan deflected goal di Swedia, Buffon berkata “satu hal yang tak boleh kita lakukan adalah menyebut diri sendiri sial.”

‘Pemberontakan’ para pemain pun terlihat jelas saat De Rossi murka karena Insigne tak dimainkan di San Siro.

foto-5

Setelah laga melawan Swedia, Buffon, De Rossi, Giorgio Chiellini dan Andrea Barzagli menyatakan pensiun dari tim nasional. Sayang sekali, laga terakhir mereka sangat mengecewakan.

Bagi Buffon, kesempatan untuk jadi orang pertama yang bermain di enam edisi Piala Dunia juga musnah. Namun, menurut Buffon sendiri, itu tak seberapa jika dibandingkan dengan kegagalan negaranya.

Andai lolos ke Rusia, veteran-veteran Italia itu bisa saja menutup karier mereka dengan indah. Itu juga dapat menjadi ajang yang tepat untuk ‘menyerahkan’ tim nasional pada generasi penerus semacam Gianluigi Donnarumma.

‘Berkat’ Presiden FIGC Carlo Tavecchio, yang telah memilih seorang pengecut berjiwa medioker sebagai pelatih Azzurri, semua itu tidak terjadi. Sama seperti Ventura, Tavecchio juga harus segera mundur dari jabatannya – itupun kalau mereka masih tahu diri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*